MEMBIASAKAN MELATIH DIRI DARI HAWA NAFSU DAN PERBUATAN MAKSIAT

Santri di Darul faqih sudah memulai kembali ber kegiatan aktif, Penerimaan santri baru pun sudah terlaksana seminggu kemarin, artinya masa tirakatan santri pada tahun ini kembali dimulai.

 

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh godaan, manusia sering kali terlena oleh kenikmatan dunia hingga melupakan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah Swt. Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang tak luput dari dosa butuh melatih diri agar tidak cepat tergoda dengan segala bentuk kemaksiatan.

Ulama’ mengajarkan bahwa kita dapat melatih diri dengan membiasakan diri dengan tirakat.

Tirakat bukanlah sekadar menahan lapar atau mengurangi kenyamanan hidup, melainkan sebuah proses pendidikan diri untuk mengendalikan hawa nafsu, memperkuat keimanan, serta membiasakan diri hidup sederhana. Demikian juga santri dibiasakan untuk melakukan tirakat selama 40 hari untuk mengistiqomahkan kegiatan positif yang ada di pesantren.

 

Selama 40 hari, santri diajarkan untuk istiqomah puasa sunnah senin kamis,shalat malam, bangun pagi, shalat berjamaah hingga tidak bertemu dengan orangtua sementara.

Tirakat bukan berarti menyiksa diri atau menjauhi dunia sepenuhnya, melainkan membiasakan diri hidup sederhana, disiplin, dan mendahulukan kepentingan akhirat tanpa melupakan kewajiban di dunia.

Tirakat memberikan banyak manfaat bagi kehidupan. Seseorang yang terbiasa bertirakat akan lebih mudah mengendalikan hawa nafsunya, memiliki hati yang lebih tenang, tidak mudah putus asa, serta lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Selain itu, tirakat juga menumbuhkan semangat untuk terus memperbaiki diri dan menjadikan setiap aktivitas sebagai bentuk ibadah. 

Tidak ada tirakat yang sia-sia. Setiap doa yang dipanjatkan, setiap hawa nafsu yang ditahan, dan setiap langkah menuju kebaikan akan menjadi saksi di hadapan Allah Swt

 

Namun, perlu dipahami bahwa tirakat tidak boleh dilakukan secara berlebihan hingga menyiksa diri atau bertentangan dengan ajaran Islam. Rasulullah saw. mengajarkan umatnya untuk beribadah dengan penuh kesungguhan, tetapi tetap menjaga keseimbangan antara ibadah, belajar, beristirahat, dan memenuhi hak diri sendiri maupun orang lain.

 

Di tengah gemerlap dunia yang sering kali melalaikan, tirakat mengajarkan kita untuk kembali menata hati dan menguatkan hubungan dengan Sang Pencipta. Kesungguhan dalam menahan hawa nafsu, menjaga ibadah, serta memperbaiki akhlak merupakan bekal berharga yang akan mengantarkan seseorang menuju kehidupan yang lebih bermakna.

 

Semoga setiap ikhtiar yang kita lakukan menjadi amal saleh yang diterima Allah Swt., serta menjadikan kita hamba yang senantiasa istiqomah dalam ketaatan dan memperoleh keberkahan di setiap langkah kehidupan. 

Tirakat bukanlah karena keterpaksaan, melainkan karena kecintaan kepada Allah. Sebab, hati yang terdidik melalui tirakat akan lebih mudah menerima ilmu, menebarkan manfaat, dan meraih kebahagiaan sejati di dunia maupun di akhirat. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *